Rabu, 22 Desember 2021

Ngentot Dengan Istri Sepupuku


Cerita21 – Perkenalkan, aku Jonatan (25) sedang liburan ke rumah abang sepupuku di Bandung. Sesampainya di Bandung, aku langsung menuju rumah abang sepupuku yang lebih kurang 1 jam perjalanan dari bandara. Mas Budi, Mas Budi... Aku pun sampai di rumah abang sepupuku. Kemudian keluarlah Mas Budi (35)menyambutku bersama kedua anak laki-lakinya. Kami pun ngobrol bersama dengan Mas Budi dan Mbak Gina (30) dan juga anak-anaknya. Kami ngobrol lama sampai akhirnya kita semua menjadi akrab, dan anak-anak Mas Budi juga langsung menjadi lengket sama aku. Tak terasa hari itu sudah sore lalu aku berpamitan untuk pulang dan tak lupa aku berikan permen untuk anak-anak Mas Budi. Entah pikiran apa yang merasuki pikiranku ini dari perjalanan pulang dari rumah Mas Budi aku malah kepikiran dengan istri Mas Budi yang sangat aduhai itu, “Aaaaahhhh Shiiiiit” teriakku dalam hati.

Setelah waktu itu aku jadi sering maen kerumah Mas Budi jika ada waktu senggang. Anak-anak Mas Budi menjadi semakin tambah lengket sama aku. Aku dan Mbak Gina pun juga menjadi semakin akrab bahkan juga semakin dekat saja. Perasaanku semakin menggebu-gebu dengan Mbak Gina tapi aku harus menahannya. Aku harus mencari kesempatan jika aku ingin menikmati tubuhnya Mbak Gina.

Sampai suatu ketika Mas Budi ditugaskan untuk mengaudit suatu perusahaan diluar kota dan itu memerlukan waktu beberapa hari, ini kesempatanku. Mas Budi yang sudah sangat akrab denganku bahkan sudah seperti abangku sendiri itu memintaku untuk menemani istrinya di rumah, karena istrinya sangat senang kalau aku dirumahnya karena anak-anaknya juga sangat menyukai aku, kata Mas Budi. Tanpa menunggu lama aku pun mengiyakan keinginan Mas Budi. Saat itu Mbak Gina sedang berada di kantor bersama Mas Budi untuk mengantarkan kepergian Mas Budi. Lalu aku disuruh Mas Budi agar langsung ke stasiun karena Mbak Gina sudah menungguku di stasiun. Aku pun nggak pakai lama langsung meluncur menuju stasiun.

Sebelumnya aku menelpon Mbak Gina dan janjian pulang bareng. Kami janjian di stasiun, karena Mbak Gina biasa pulang naik kereta. “kalau naik bis macet banget. Lagian sampe rumahnya terlalu malem”, begitu alasan Mbak Gina. Dan jam 17.00 aku bertemu Mbak Gina di stasiun. Tak lama, kereta yang ditunggu pun datang. Cukup penuh, tapi aku dan Mbak Gina Masih bisa berdiri dengan nyaman. Kami pun asyik bercerita, seolah tidak mempedulikan kiri kanan.

Tapi hal itu ternyata tidak berlangsung lama, kereta benar-benar penuh. Mau tidak mau posisiku bergeser dan berhadapan dengan Mbak Gina. Inilah yang kutakutka..! Beberapa kali, karena goyangan kereta, tetek montok Mbak Gina menyentuh dadaku. Ahh... darahku rasanya berdesir kencang, dan mukaku berubah agak pias. Rupanya Mbak Gina melihat perubahan mukaku. Dia langsung mengubah posisi dengan membelakangiku. Alamaakk... Siksaanku bertambah..! Karena sempitnya ruangan, kontolku menyentuh pantatnya yang bulat manggairahkan. Aku hanya bisa berdoa semoga kontolku tidak bangun. Kami pun tetap mengobrol dan bercerita untuk membunuh waktu. Tapi, namanya laki-laki normal apalagi ditambah gesekan-gesekan yang ritmis, mau tidak mau bangun juga kontolku. Makin lama makin keras, dan aku yakin Mbak Gina bisa merasakannya dibalik rok mininya itu.

Pikiran ngeresku pun muncul, seandainya aku bisa mereMas tetek dan merangkul pinggulnya yang montok itu... Ooohhh... Betapa nikmatnya. Akhirnya sampai juga kami di Bekasi, dan aku bersyukur karena siksaanku berakhir. Kami kemudian naik angkot, dan sepanjang jalan Mbak Gina diam saja. Sampai dirumah, kami beristirahat, mandi (sendiri-sendiri, loh...) dan kemudian makan malam bersama keponakanku. Selesai makan malam, kami bersantai, dan tak lama kedua keponakanku pun pamit tidur.

“Jonatan, Mbak mau bicara sebentar”, katanya, tegas sekali.
“Iya Mbak.. kenapa”, sahutku bertanya. Aku berdebar, karena yakin bahwa Mbak akan memarahiku akibat ketidaksengajaanku di kereta tadi.
“Terus terang aja ya. Mbak tau kok perubahan kamu di kereta. Kamu ngaceng kan?” katanya, dengan nada tertahan seperti menahan rasa jengkel.
“Mbak tidak suka kalau ada laki-laki yang begitu ke perempuan. Itu namanya pelecehan. Tau kamu?!”
“Maa.. maaf, Mbak..”, ujarku terbata-bata.
“Aku tidak sengaja. Soalnya kondisi kereta kan penuh banget. Lagian, nempelnya terlalu lama.. ya.. aku tidak tahan”
“Terserah apa kata kamu, yang jelas jangan sampai terulang lagi. Banyak cara untuk mengalihkan pikiran ngeres kamu itu. Paham?!” bentak Mbak Gina.
“Iya, Mbak. Aku paham. Aku janji tidak ngulangin lagi”
“Ya sudah. Sana, kalau kamu mau main PS. Mbak mau tidur-tiduran dulu. Kalau pengen nonton film masuk aja kamar Mbak.” Sahutnya. Rupanya, tensinya sudah mulai menurun.

Akhirnya aku main PS di ruang tengah. Karena bosan, aku ketok pintu kamarnya. Pengen nonton film. Rupanya Mbak Gina sedang baca novel sambil tiduran. Dia memakai daster transparant. Aku sempat mencuri pandang keseluruh tubuhnya. Kuakui, walapun punya anak dua, tubuh Mbak Gina betul-betul terpelihara. Maklumlah, modalnya ada. Akupun segera menyetel DVD dan berbaring dikarpet, sementara Mbak Gina asyik dengan novelnya.

Entah karena lelah atau sejuknya ruangan, atau karena apa akupun tertidur. Kurang lebih 2 jam, dan aku terbangun. Film telah selesai, Mbak Gina juga sudah tidur. Terdengar dengkuran halusnya. Wah, pasti dia capek banget, pikirku. Saat aku beranjak dari tiduranku, hendak pindah kamar, aku terkejut. Posisi tidur Mbak Gina yang agak telungkup ke kiri dengan kaki kanan terangkat keatas benar-benar membuat jantungku berdebar. Bagaimana tidak? Di depanku terpampang paha mulus, karena dasternya sedikit tersingkap. Mbak Gina berkulit putih kemerahan, dan warna itu makin membuatku tak karuan. Hatiku tambah berdebar, nafasku mulai memburu. Birahiku pun timbul.

Perlahan, kubelai paha itu, lembut... Kusingkap daster itu sampai pangkal pahanya.. dan.. Aakhh... Kontolku mengeras seketika. Mbak Gina ternyata memakai celana dalam model g-string.. Oohhh.. God... Apa yang harus kulakukan.. Aku hanya menelan ludah melihat pantatnya yang tampak menggunung, dan aku bener-bener terangsang melihat pemandangan indah itu, tapi aku sendiri merasa tidak enak hati, karena Mbak Gina istri sepupuku sendiri, yang mana sebetulnya harus aku temani dan aku lindungi dikala suaminya sedang tidak dirumah.

Namun godaan syahwat memang mengalahkan segalanya. Tak tahan, kusingkap pelan-pelan celana dalamnya, dan tampaklah gundukan pepeknya berwarna kemerahan. Aku bingung harus kuapakan karena aku masih ada rasa was-was, takut, kasihan, tapi sekali lagi godaan birahi memang dahsyat. Akhirnya pelan-pelan kujilati pepek itu dengan rasa was-was takut Mbak Gina bangun. Sluurrppp... Sluurrppp... Ternyata pepeknya lezat juga, ditambah bulu pepek Mbak Gina yang sedikit, sehingga hidungku tidak geli bahkan leluasa menikmati aroma pepeknya.

Entah setan apa yang menguasai diriku, tahu-tahu aku sudah mencopot seluruh celanaku. Setelah kontolku kubasahi dengan ludahku, segera kubenamkan ke pepek Mbak Gina. Agak susah juga, karena posisinya itu. Dan aku harus ekstra hati-hati supaya dia tidak terbangun. Akhirnya kontolku berhasil masuk. Aaakkkhhhhh... Hangat rasanya, sempit, tapi licin seperti piston di dalam silinder. Entah licin karena Mbak Gina mulai horny, atau karena ludah bekas jilatanku. Entahlah, yang pasti kugenjot dia naik turun pelan-pelan dengan lembut. Tapi ternyata nggak sampai 5 menit, aku begitu terpukau dengan keindahan pinggul dan pantatnya, kehalusan kulitnya, sehingga pertahananku jebol. Crroott.. ccrroott.. ccrroott.. Aaakkkhhh... Kumuntahkan maniku di dalam pepek Mbak Gina. Aku merasakan pantatnya sedikit tersentak. Setelah habis maniku, pelan-pelan dengan dag dig dug kucabut kontolku.

“Hhhmmm... Kok dicabut kontolnya?” suara Mbak Gina mengigau karena masih ngantuk.
“Gantian dong.. Aku juga pengen..”
Aku kaget bukan main. Jantungku tambah kencang berdegup.
“Wah.. celaka..”, pikirku.
“Ketahuan, nich..” Benar saja! Mbak Gina mambalikkan badannya. Seketika dia begitu terkejut dan secara refleks menampar pipiku. Rupanya dia baru sadar bahwa yang habis menyetubuhinya bukan Mas Budi, melainkan aku, sepupunya.
“Kurang ajar kamu, Jonatan”, makinya.
“KELUAR KAMU...!”

Aku segera keluar dan masuk kamar tidur tamu. Di dalam kamar aku bener-bener gelisah, takut, malu, apalagi kalau Mbak Gina sampai lapor polisi dengan tuduhan pemerkosaan. Wah... Terbayang jelas dibenakku acara Buser, malunya aku. Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca majalah, buku, apa saja yang bisa membuatku mengantuk. Dan entah berapa lama aku membaca, aku pun akhirnya terlelap. Seolah mimpi, aku merasa kontolku seperti lagi keenakan. Serasa ada yang membelai. Nafas hangat dan lembut menerpa selangkanganku. Perlahan kubuka mata, dan...

“Mbak Gina..jangan”, pintaku sambil aku menarik tubuhku.
“Jonatan..” sahut Mbak Gina, setengah terkejut.
“Maaf ya, kalau tadi aku marah-marah. Aku bener-bener kaget liat kamu tidak pake celana, ngaceng lagi.”
“Terus, Mbak maunya apa?” aku bertanya kepadanya. Aku bingung, tadi dia marah-marah, sekarang kok.. jadi begini..
“Terus terang, Jonatan. Habis marah-marah tadi, Mbak bersihin pepek dari mani kamu dan disiram air dingin supaya Mbak tidak ikutan horny. Tapi... Mbak malah kebayang-bayang kontol kamu. Soalnya Mbak belum pernah ngeliat kayak punya kamu, besar, keras dan panjang tidak seperti punya Mas Budi” Sahutnya sambil tersenyum.

Dan tanpa menunggu jawabanku, dikulumnya kontolku seketika sehingga aku tersentak dibuatnya. Mbak Gina begitu rakus melumat kontolku. Bahkan aku merasakan kontolku tidak bisa masuk sampai kedalam mulutnya. Secara refleks, Mbak Gina naik ke bed, menyingkapkan dasternya di mukaku. Posisi kami saat ini 69. Dan, Ya Tuhan, Mbak Gina sudah melepas celana dalamnya. Aku melihat pepeknya makin membengkak merah. Itilnya agak nampak keluar, seolah menantangku untuk dijilat dan dihisap. Tak kusia-siakan, segera kuserbu dengan bibirku.

“SSshh.. ahh.. Jonatan.. iya.. gitu.. he-eh.. Mmmffhh.. sshh.. aahh” Mbak Gina merintih menahan nikmat. Akupun menikmati pepeknya yang ternyata bener-bener becek. Aku suka sekali dengan cairannya. “Itilnya dong, Jonatan.. Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... JONATAAAAN..”

Mbak Gina makin keras merintih dan melenguh. Goyangan pinggulnya makin liar dan tak beraturan. Pepeknya makin memerah dan makin becek. Sesekali jariku kumasukkan ke dalamnya sambil terus menghisap itilnya. Tapi rupanya kelihaian lidah dan jariku Masih kalah dengan kelihaian lidah Mbak Gina. Buktinya aku merasa ada yang mendesak kontolku, seolah mau muntah.

“Mbak.. mau keluar nih...” kataku.

Tapi Mbak Gina tidak mempedulikan ucapanku dan makin ganas mengulum kontolku. Aku makin tidak tahan dan.. Crroottt..  Crroottt.. Crroottt... Maniku muncrat dimulut Mbak Gina. Dengan rakusnya Mbak Gina menjilat maniku yang terkena wajahnya lalu ditelannya.

“Jonataaaan.. Kontolmu ngaceng terus ya.. Mbak belum kebagian nih..” pintanya.

Aku hanya bisa meringis menahan geli, karena Mbak Gina melanjutkan mengisap kontolku. Dan kontolku seperti menuruti kemauan Mbak Gina. Jika tadi langsung lemas, ternyata kali ini kontolku dengan mudahnya bangun lagi. Mungkin karena pengaruh lendir pepek Mbak Gina sebab pada saat yang sama aku sibuk menikmati itil dan cairan pepeknya, aku jadi mudah terangsang lagi. Tiba-tiba Mbak Gina bangun dan melepaskan dasternya.

“Copot bajumu semua, Jonatan” perintahnya.

Aku menuruti perintahnya dan terperangah melihat pemandangan indah didepanku. Teteknya membusung tegak bagaikan 2 buah semangka yang segar. Kuperkirakan ukurannya 36B. Puting merah kecoklatan, sewarna kulitnya. Puting itu benar-benar tegak ke atas seolah menantang kelelakianku untuk menjilatnya bahkan menggigit manja. Segera Mbak Gina berlutut di atasku, dan tangannya membimbing kontolku ke lubang pepeknya yang panas dan basah.

”Bless.. sshh..”
“Aduhh.. Aaakkkhhh.. Aaakkkhhh... Jonatan. Kontolmu keras banget yah...” rintihnya.
“kok bisa kayak kayu sih...?”

Mbak Gina dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sesekali diselingi gerakan maju mundur. Bunyi gemerecek akibat pepeknya yang basah makin keras. Tak kusia-siakan, kulahap habis kedua putingnya yang menantang dengan rakus. Mbak Gina makin keras goyangnya, dan aku merasakan tubuh dan pepeknya makin panas, nafasnya makin memburu. Makin lama gerakan pinggul Mbak Gina makin cepat, cairan pepeknya membanjiri selangkanganku, nafasnya memburu dan sesaat kurasakan tubuhnya mengejang.. bergetar hebat.. nafasnya tertahan.

“Aaakkkhhh.. Aaakkkhhh.. Aaakkkhhh.. Aaakkkhhh... JONATAAAAN.. Mbak KELUAARR...”

Mbak Gina menjerit dan mengerang seiring dengan puncak kenikmatan yang telah diraihnya. Pepeknya terasa sangat panas dan gerakan pinggulnya semakin liar sehingga aku merasakan kontolku seperti dipelintir. Dan akhirnya Mbak Gina roboh di atas dadaku dengan ekspresi wajah penuh kepuasan. Aku tersenyum penuh kemenangan sebab aku masih mampu bertahan.

Tak disangka, setelah istirahat sejenak, Mbak Gina berdiri dan duduk dipinggir spring bed. Kedua kakinya mengangkang, punggungnya agak ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyangga tubuhnya. “Jonatan, ayo cepet masukin lagi. klitoris Mbak kok rasanya kenceng lagi..” pintanya setengah memaksa. Apa boleh buat, kuturuti kemauannya itu. Perlahan kontolku kugosok-gosokkan ke bibir pepek dan klitorisnya. Pepek Mbak Gina mulai memerah lagi, klitorisnya langsung menegang, dan lendirnya tampak mambasahi dinding pepeknya.

“Aaakkkhhh... Jonatan.. Kamu jail banget siicchh.. Ooohhh...” rintihnya.
“Masukin aja sayang... Jangan siksa aku, pleeaassee...” rengeknya.

Mendengar dia merintih dan merengek, aku makin bernafsu. Perlahan kumasukkan kontolku yang memang sudah keras ke pepeknya yang ternyata sangat becek dan terasa panas akibat masih memendam gelora birahi. Kugoyang maju mundur perlahan, sesekali dengan gerakan mencangkul dan memutar. Mbak Gina mulai gelisah, nafasnya makin memburu, tubuhnya makin gemetaran. Tak lupa jari tengahku memainkan dan menggosok itilnya yang ternyata benar-benar sekeras dan sebesar kacang. Iseng-iseng kucabut kontolku dari lubang pepeknya, dan tampaklah lubang itu menganga kemerahan, basah sekali.

Gerakan jariku di itilnya makin kupercepat, Mbak Gina makin tidak karuan gerakannya. Kakinya mulai kejang dan gemetaran, demikian pula sekujur tubuhnya mulai bergetar dan mengejang bergantian. Lubang pepeknya makin becek, terlihat lendirnya meleleh dengan derasnya, dan segera saja kusambar dengan lidahku dan kujilat habis semua lendir yang meleleh itu. Tentu saja tindakanku ini mengagetkan Mbak Gina, terasa dari pinggulnya yang tersentak keras seiring dengan jilatanku di pepeknya. Kupandangi pepek itu lagi, dan aku melihat ada seperti daging kemerahan yang mencuat keluar, bergerinjal berwarna merah seolah-olah hendak keluar dari pepeknya. Dan nafas Mbak Gina tiba-tiba tertahan diiringi pekikan kecil, dan sssrrr... aku merasakan ada cairan hangat muncrat dari pepeknya.

“Mbak.. udah keluar?”, tanyaku.
“Beluum.., Jonataaaan.. Ayoooo.. masukin kontol kamu, aku hampir sampaaii..” erangnya.

Rupanya Mbak Gina sampai terkencing-kencing menahan nikmat. Akibat pemandangan itu aku merasa ada yang mendesak ingin keluar dari kontolku, dan segera saja kugocek Mbak Gina sekuat tenaga dan secepat aku mampu, sampai akhirnya...

“Jonataaaaann... AKU KELUAARR... Aaakkkhhh.. Aaakkkhhh.. Aaakkkhhh.. Aaakkkhhh..!”, Mbak Gina menjerit dan mengerang tidak karuan sambil mengejang-ngejang. 

Bola matanya tampak memutih, dan aku merasa jepitan di kontolku begitu kuat. Akhirnya bobol juga pertahananku.
“Mbak.. aku mau muncrat nich..” kataku.
“Keluarin Jonatan.. Ayo Jonatan, keluarin di dalem... Aku pengen kehangatan manimu sekali lagi..” pintanya sambil menggoyangkan pinggulnya, menepuk pantatku dan meremas pinggulnya. Seketika itu juga.. Crruuoott... Crruuoott... Crruuoott...

“Ayo, keluarkan semuanya, habiskan semuanya... Sungguh nikmat manimu, hangat di dalam pepekku” desah Mbak Gina manja menggairahkan.
Akupun terkulai diatas tubuh moleknya dengan nafas satu dua. Benar-benar malam jahanam yang melelahkan sekaligus malam surgawi.

“Jonatan, makasih ya.. Kamu bisa melepaskan hasratku..” Mbak Gina tersenyum puas sekali.
“iyaa Mbak.. Aku juga..” balasku.
“Aku juga makasih boleh menikmati tubuh Mbak. Terus terang, sejak ngeliat Mbak, aku pengen bersetubuh dengan Mbak. Tapi aku sadar itu tak mungkin terjadi. Gimana dengan keluarga kita kalau sampai tahu.”

“Waahh.. kurang ajar juga kau ya..” kata Mbak Gina sambil memencet hidungku.
“Aku tidak nyangka kalau adik sepupuku ini pikirannya ngesex melulu. Tapi, sekarang impian kamu jadi kenyataan kan?”
“Iya, Mbak. Makasih banget.. aku boleh menikmati semua bagian tubuh Mbak.” Jawabku.
“Kamu pengalaman pertamaku, Jonatan. Maksud Mbak, ini pertama kali Mbak bersetubuh dengan laki-laki selain Mas Budi. Kontol Mas Budi kalah jauh dari punya kamu. Mas Budi juga gak bisa bertahan lama dalam menyaingi Mbak. Tidak seperti kamu yang sanggup berkali-kali melawan Mbak” sahutnya.

“Pantesan Mbak keliatan puas banget. Cari variasi ya?” aku bertanya.
“Ini pertama kalinya aku sampai terkencing-kencing menahan nikmatnya gesekan jari dan Kontolmu itu. Suer, baru kali ini Mbak sampai pipisin kamu segala. Kamu nggak jijik?”
“Ooohh.. itu toh..? Kenapa harus jijik? Justru aku makin horny..” aku tersenyum.

“Jika ada kesempatan seperti ini lagi, kita harus melakukannya yaaa...” pinta Mbak Gina. Aku pun menjawab pasti dan selalu siap kapanpun Mbak mau.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog