Senin, 13 Desember 2021

Ngentot Dengan Tanteku Yang Galau

 

bandar togel terpercaya

Bandar Togel Terpercaya - Saya Dedi, umur 22 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah Sidoarjo.

Om saya bernama Dimas, telah menikah dengan seorang wanita yang canti bernama Sinta dan memiliki dua orang anak, berumur 3 dan 5 tahun. Saya sendiri tinggal di Surabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan Om Dimas adalah 19 Kilometer.

Awal kejadiannya adalah pada hari Sabtu, malam minggu saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit ‘gatel’ om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam.

Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku, Om Dimas dan Tante Sinta saja yang ada di rumah. “Brak...” suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar.

Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, “Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku.” Dalam hatiku berkata, “Wah ribut lagi.” Om Dimas langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobilnya dan pergi entah ke mana. Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sinta menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Dimas dilimpahkan kepadaku).

Tapi aku jadi penasaran juga, takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sinta. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya, dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sinta, kuhampiri dia dan dengan pelan.

Aku bertanya, “Kenapa Tan? Om kambuh lagi?” Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya. Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sinta mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam.

Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sinta mengajak Om Dimas berduaan saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sinta dan mungkin juga Tante Sinta mengajak Om Dimas bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Dimas tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sinta. Tiba-tiba Tante Sinta berkata, “Di, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante.

Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cantik lagi?” Ketika Tante Sinta berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap teteknya (kira-kira berukuran 36). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya, aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu.

Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sinta menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat teteknya lebih dekat lagi). “Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!” “Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana.”

Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, “Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok.” (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam). “Tapi Tante dengar dia punya selingkuhan di Surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan sama cewek, kalo nggak salah namanya Dina.” “Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok.”

Tanpa Tante Sinta sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sinta karena tangan kiriku masih memegang tangannya. Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki. Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sinta dan berdiri dari duduknya.

“Di, saya tantemu dan saya harap kamu jangan kurang ajar sama tante, sekarang tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!” Dengan nada marah Tante Sinta mengusirku. Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf kepada Tante Sinta karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan keluar dari kamar tanteku.

Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku. Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sinta lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu).

Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sinta cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang. “Mau apa kamu Di?” tanyanya dengan gugup bercampur kaget. “Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante”.

Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 180 cm dan beratku 72 kg, sedangkan Tante Sinta memiliki tinggi tubuh sekitar 167 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya. “Lepasin tante, Dedi,” suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya.

Dasternya kusingkap ke atas. Ternyata Tante Sinta mengenakan celana dalam model g-string (tali 1 yang hanya menutupi bagian memeknya saja) berwarna pink sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik daster bagian atasnya yang memakai bra transparant dengan warna yang sama dengan g-stringnya hingga payudaranya terpampang jelas di depanku. Dengan bernafsu aku langsung meremas dan menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku.

Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sinta sudah mulai terangsang walaupun masih malu-malu denganku)

Kontolku sudah berdiri tegak dan kokoh, nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah istri omku sendiri yaitu tanteku. Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kontolku ke memek tanteku. Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku, kadang kontolku meleset ke atas dan bahkan kadang meleset ke arah lubang pantat tanteku. Ini karena tanteku bergerak ke sana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kontolku yang sudah siap tempur ini.

“Di, jangan Di, aku tantemu tolong lepasin Di, ampun, tante minta ampun”. Aku sudah tidak peduli lagi rengekannya. Usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil karena gagal pun mungkin akibatnya akan sama bahkan mungkin lebih fatal akibatnya. Ketika lubang memeknya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari vaginanya aku langsung menghujamkan kontolku.

“Auuhh, sakit Di, aduh... Tante minta ampun... Tolong Di, jangan lakukan lepasin tante Di...” Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi kontolku sudah di dalam, “Maaf tante, aku sudah tidak tahan dan kontolku sudah terlanjur masuk nih...,” bisikku ke telinganya. Tante Sinta hanya diam saja, dan tidak berkata apa-apa.

Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kontolku naik-turun, tanteku menggelinjang hebat seakan-akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya. Ssshhhhhhhhh... Tanteku hanya mendesis keenakan sambil menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan tak mau menatap wajahku kemudian dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar.

Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, “Tante, tante masih cantik dan tetap menggairahkan kok, saya sayang banget sama tante, jika om sudah tidak sayang lagi, biar Dedi yang menyayangi Tante.” Tante Sinta hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku.

Kontolku kudorong perlahan seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama. Clokkk clokkk clokkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku seirama keluar masuknya kontolku ke dalam memeknya yang betul-betul enak.

Kira-kira 10 menit aku merasakan memek tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat (mungkin tanteku sedang orgasme, kudiamkan sejenak kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya) kubenamkan lebih dalam kontolku sambil memeluk erat tubuhnya, diapun membalasnya dengan erat dan kurasakan tubuh tanteku bergetar kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya.

Kubalikkan badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi di atas kontolku masih terbenam dalam memeknya tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya di atas tubuhku, lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan dan menurunkannya lagi kuangkat lagi dan kuturunkan lagi.

Kontolku yang berdiri tegak menyodok deras ke atas memeknya yang nikmat dan akhirnya tanpa kubantu tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun, aku yang merasakan kenikmatan luar biasa dari memek tanteku. Tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas dan memang kesukaannya jika berada di atas, sampai tanteku tidak berhenti mendesah nikmat, ahh.. ahhh... ahhh...

Dia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Mia Khalifa (pemeran bokep paling terkenal), Ssshhh... Kali ini aku yang mirip orang kepedasan aku mengangkat kepalaku, kuhisap tetek tanteku, ia mengerang goyangannya tambah dipercepat dan 5 menit berjalan, tanteku bergetar lagi ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua kalinya, pundakku dicengkeramnya erat, ssshhhhhhh... bibir bawahnya digigit sambil kepalanya menengadah ke atas “Di, bangsat kamu, tante kok bisa jadi gini, tante udah 2 kali nembak... ”aku hanya tersenyum“ tulangku rasanya lepas semua Di” aku kembali tersenyum.

“Tante gak pernah klimaks lebih dari 1 kali kalau dengan ommu...” Kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional kugenjot dengan deras memeknya, aaahhh... aaahhh... aaahhh... Tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku. Aku pun sudah kepengen nyampe dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam memeknya.

Ssshhhhhh..... aaachhhhhhh...... Spermaku tumpah dengan derasnya ke dalam memek tanteku, mata tanteku sayu menatapku klimaks. Permainan panjang yang sangat melelahkan yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama-sama diraih. Kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku.

“Kamu harus menjaga rahasia ini Di.” Aku hanya mengangguk dan sekarang tanteku tak peduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera ke rumahnya dan memuaskan tanteku yang menggairahkan.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog