Selasa, 21 Desember 2021

Nikmatnya Kontol Brondong


Cerita21 - Jam weker di meja kamarku berdering pada jam 9 pagi, memang aku mensetting pada jam itu, karena malam sampai terdengar adzan subuh aku masih belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku menggeliatkan tubuhku terdengar kerotokan pada pinggangku, dengan malas aku bangkit dari tempat tidur.

Ups... Aku lupa kalau aku tadi tidur dengan tubuh telanjang bulat. Kuliat tubuhku dari pantulan cermin besar, Hmmm... Dalam usia hampir kepala 4, kulihat tubuhku masih bagus, tetekku yang berukuran 36B masih cukup kenyal, pinggangku masih ramping tak berlemak, pinggul dan pantatku kata mas Seno, almarhum suamiku adalah bagian yang terindah dari tubuhku, sangat seksi dan serasi dengan sepasang kakiku yang panjang. Wajahku?

Kata mas Seno lagi, katanya wajahku lebih pantas dibilang seksi daripada cantik. Entahlah penilaian lelaki memang susah dijabarkan oleh perempuan. Sssssshhh... Ooohhh... gila, lagi-lagi gairah birahiku meletup dengan tiba-tiba. Di depan cermin besar itu aku meremasi tetek montokku sendiri yang kian mengencang. Ammpuuuun... sudah 2 hari 2 malam ini aku sangat menderita karena birahi gila ini. Entah berapa kali selama 2 hari 2 malam ini aku bermasturbasi sampai tubuhku benar-benar loyo tak berdaya.

Bahkan pada hari pertama aku sempat melakukan masturbasi di belakang kemudi mobil di tengah keramaian jalan tol, saking nggak tahannya. Semalam, dengan diiringi adegan-adegan syur film bokep koleksi almarhum mas Seno, aku melampiaskan hasrat birahiku secara bar-bar, mungkin lebih dari 10 kali sampai pagi menjelang.

Maka betapa jengkelku, sekarang belum setengah jam mataku terbuka, gelegak birahi itu meletup lagi. Kali ini aku melawan, aku masuk kamar mandi, kuguyur tubuhku dengan shower air dingin, agak menggigil juga tubuhku. Aku memang wanita berlibido tinggi yang jarang bisa aku kontrol jika sudah sangek.

Sejak ABG aku sudah mengenal masturbasi, menjelang lulus SMA aku mengenal ngentot dan berlanjut menjadi doyan ngentot. Masa kuliahku adalah masa euphoria sex, karena aku kuliah di Bandung sementara orang tuaku di Jakarta.

Pada awal masa kuliahku, aku pantas dijuluki pemburu sex. Beberapa kali aku diusir dari tempat kost yang berbeda, dengan sebab yang hampir sama. Yang aku ingat, sore pulang kuliah diantar teman kuliahku, aku lupa namanya, pokoknya keturunan Arab. Aku lupa bagaimana awal mulanya, aku tanpa sadar nyepong kontol Arab ganteng itu di dalam kamarku dalam keadaan pintu nggak terkunci dan Ipah pembantu ibu kost yang nyinyir itu nyelonong masuk kamarku untuk menaruh pakaianku yang habis disetrikanya. Aku tengah terkagum-kagum dengan besar nan keras kontol Arab ganteng yang lebih besar dari lenganku dan minta ampun panjangnya.

Malam itu juga aku disidang dan harus keluar dari rumah kost itu. Tapi buatku gak ada masalah karena malam itu si Arab ganteng memberikan tumpangan sementara di rumah kontrakannya. Tentu saja gairah birahiku yang binal dimanjakan oleh Arab ganteng itu sepanjang hari. Bahkan sampai beberapa hari aku tinggal di rumah kontrakan si Arab ganteng yang berantakan.

Kejadian yang lain pernah juga tengah malam, lagi seru-serunya ngentot sama cowok baruku, tiba-tiba pintu didobrak petugas ronda yang rupanya sudah lama memperhatikan kebiasaanku masukin cowok malam-malam. Cowokku dengan lincahnya berhasil kabur.

Sementara aku lagi-lagi terpaksa harus cari kost baru lagi. Satu lagi yang gak bakal aku lupa, affairku dengan bapak kost, biar sudah tua tapi ganteng dan yang membuatku bertekuk lutut, Hmmm... Aksi ranjangnya... Selalu membuatku bangun kesiangan esoknya...

Sayang aku menikmati kencan ranjang dengan bapak kost baru tiga kali keburu ketangkap basah sama istrinya... Abis siang bolong bapak itu ngajakin naik ranjang. Apesnya lagi aku gak akan mampu menolak, kalo tetekku sudah diremasnya. Baru mau dua kali aku mendapatkan orgasme, eeeh... pintu diketok-ketok dari luar dan terdengar suara ibu kost memanggil namaku.

Mendengar itu bapak kost yang sedang memainkan kontolnya di lubang pepekku, jadi gugup dan efeknya justru membuatnya orgasme, untung gak telat nyabut. Maninya berhamburan di atas perutku banyak sekali, bisa ditebak endingnya. Aku harus angkat kaki dari rumah kost saat itu juga.

Nasihat sahabat-sahabatku, banyak merubah perilaku seksualku yang liar. Dengan susah payah aku berhasil menekan hasrat birahiku yang memang luar biasa panas dan aku mengumbarnya. Awalnya gak sanggup aku menahan seminggu tanpa aktivitas seksual, aku bakal uring-uringan dan kepala terasa pecah.

Sampai akhirnya aku ketemu dengan mas Seno Aktivis Mapala, kakak kelasku. Nggak hanya sosoknya yang jantan, permainan ranjangnya pun luar biasa. Permainannya yang kasar, mampu membuatku mengerang-erang histeris. Aku gak nyesel, harus married dengan mas Seno karena keburu hamil.

Buktinya aku berhasil menyelesaikan kuliah, walaupun sambil mengasuh Astari buah cintaku dengan mas Seno. Sampai akhirnya 5 tahun yang lalu, kecelakaan mobil di jalan tol merenggut mas Seno dari kami berdua.

Selama 5 tahun menjanda, mungkin karena kesibukanku mengurus dan melanjutkan usaha mas Seno yang sedang menanjak pesat dan keberadaan Astari anak tunggalku yang sudah menginjak usia gadis remaja, aku hanya 2 kali terlibat affair dengan lelaki yang berbeda, itupun juga hanya having fun semata, penyegaran suasana disela-sela kesibukan bisnis. Kehidupan seksualku datar, tanpa gejolak, sesekali aktivitas masturbasi cukup memuaskanku.

Setelah tubuh terasa segar, kukenakan kimono dan keluar kamar.

”Eee.. Ron, kamu disini? Kok gak sekolah?” Kudapati Ronie di belakang komputer Astari. Ronie adalah kakak kelas Astari yang hampir setahun ini akrab dengan anak gadisku. Ronie, anak muda yang sopan dan pandai cerminan produk dari keluarga yang cukup baik dan mapan.

”Iya tante, saya hari ini kebetulan banyak pelajaran kosong jadi bisa pulang lebih awal dan tadi Tari minta tolong saya nungguin tante yang lagi sakit, kali aja butuh apa-apa” Sahut Ronie sopan, membuatku terharu. Lumayan ngobrol dengan Ronie, penderitaanku agak berkurang.

”Ron, kamu bisa mijit gak? Tolong pijitin tante dong bentar, leher tante kaku...” pintaku ke Ronie tanpa canggung, karena memang kami sudah akrab sekali, bahkan buatku Ronie kaya anakku sendiri. Ronie duduk menghadap punggungku pijatan demi pijatan kurasakan. Tanpa kusadari sentuhan tangan lelaki muda itu terasa nikmat selayaknya sentuhan lelaki yang tengah membangkitkan birahi perempuan. Aku mulai mendesah resah...

Percikan api birahi dengan cepat membakarku tanpa ampun. Sementara tanpa kusadari kimonoku sudah semakin melorot, terdesak tangan Ronie yang kini memijit daerah pinggangku, atas permintaanku sendiri untuk memijit lebih turun. Uuuhhh... Dadaku terasa sesak akibat tetekku yang semakin mengencang.

Aku ingin ada yang meremasinya. Sssshhh... Ooouuuhhh... Gilaaa, aku nggak tahan... Kupegang kedua tangan Ronie, tangan kiriku memegang tangan kirinya dan tangan kananku memegang tangan kanannya kutarik kedepan melingkari tubuhku dan kutangkupkan di tetekku.

”Eehh...Tante...?” bisik Ronie bingung dari belakang tubuhku.

”Ron... Tolong remas tetek tante...” desisku resah. Merasakan sentuhan tangan lelaki pada tetekku yang tengah mengencang. Benar-benar hilang sosok Ronie yang sehari-hari adalah teman dekat anakku. Yang ada dibenakku saat itu Ronie adalah lelaki muda bertubuh tegap. Ooouuhh... Ronie mulai meremasi kemontokan tetekku.

”Yaaaaahh... Akhhh... Akhhh... Enaaaak... Ron, ulangi lagi sayaaang. Akhhh... Akhhh... ” Tubuhku menggeliat resah, kugapai kepala Ronie dan kutarik ke arah tengkukku yang terbuka karena rambutku kusanggul ke atas. Ronie tak menolak dan melakukan permintaanku untuk menciumi tengkukku.

”Ciumi leher tante. Akhhh... Akhhh... Yaaahhh, kecupin sayaaang. Aaaaccchh... Sssshhh... ” Bisikan dan desah mesraku menuntun Ronie melakukan apa yang kuminta. Aku makin gak tahan, tubuhku gemetaran hebat. Kimonoku tinggal menutupi tubuh bawahku karena tali pinggangnya masih terikat.

Kubalikkan tubuhku, sejenak kupandangi wajah ganteng Ronie yang matanya terbelalak liar menatap tubuh bagian depanku dengan mimik nggak karuan. Kulingkarkan kedua lenganku di lehernya dan dengan penuh gairah kulumat bibir manisnya...

Anak muda ini gelagapan menghadapi liarnya bibirku yang mengulum bibirnya dan nakalnya lidahku yang menggeliat menerobos masuk rongga mulutnya. Tapi insting lelakinya segera mengantisipasi serangan lidahku yang liar.

Baju seragam Ronie dengan cepat kulolosi dan... Ooohhh... dada yang gempal dan bidang dari salah satu tim inti basket di sekolahnya ini membuat gairahku semakin binal. Kudorong tubuh Ronie untuk rebah di sofa, nafas jantannya mulai tak beraturan. Anak muda ini mulai mengerang-erang dan tubuhnya menggelepar, tatkala bibir dan lidahku menjelajahi permukaan kulit dadanya, bungkahan dada jantannya kuremas dengan gemas.

Aksi bibir dan lidahku terus melata sampai ke pusarnya. Sssshhh... Celananya tampak menggembung besar, entah ada apa dibaliknya? Jantungku berdegup semakin kencang melihatnya, dan mataku terbelalak dibuatnya. Sampai aku harus menahan nafas, ketika retsleting celana abu-abu itu terbuka. Kepala kontolnya menyembul keluar dari batas celana dalamnya.

Aku dengan tergopoh-gopoh karena tak sabar melorotin celana seragam sekalian dengan celana dalam putihnya sampai ke lutut Ronie. Ooooohhh... my God! Teriakku dalam hati, menyaksikan kontol Ronie yang mengacung di antara pahanya, begitu macho, begitu gagah, begitu indah bentuknya, dengan kepala kontolnya yang besar tampak mengkilat.

Tanganku terasa gemetaran ketika hendak menyentuhnya. Kembali tubuh Ronie menggerinjal kecil ketika tanganku bergerak mengocok kontolnya. Aku makin binal, kudekatkan wajahku untuk mengulum kontol yang menggemaskan itu, sambil tetap tanganku bergerak mengocok kontolnya.

Mendadak tubuh tegap itu meregang hebat diiringi erangan keras, dan bibirku yang setengah terbuka dan tinggal beberapa sentimeter dari kepala kontol itu merasakan semburan cairan hangat dengan menyebarkan aroma khas yang sangat kukenal dan kurindukan, apalagi kalau bukan mani lelaki. Tanganku refleks mengocok kontol Ronie makin cepat sambil tanganku yang lain mengurut lembut kantung pelirnya.

Sementara kubiarkan main yang sangat kental itu menyembur wajahku. Sesekali kusambut mani itu dengan lidahku. Ehmmm... Rasanya yang khas itu kembali dirasakan oleh lidahku, terus terang aku sempat kecewa dengan nyemburnya mani Ronie. Tapi beberapa saat kemudian, kontol yang masih dalam genggamanku itu kurasakan tak menyusut sedikitpun dan masih tetap keras.

Tanpa buang waktu, aku merangkak di atas tubuh Ronie yang telentang di sofa. Dengan posisi tubuhku jongkok mengangkangi tubuh Ronie tepat di atas kontolnya. Kutuntun kontolnya yang masih belepotan mani itu ke arah lubang pepekku yang sudah basah kuyub dari tadi.

Wowhhh... Ternyata kontolnya itu terlalu besar untuk masuk ke lubang pepekku. Akhirnya dengan sedikit menahan perih, akibat otot pepekku yang dipaksa membuka lebih lebar kujejalkan dengan sedikit memaksa ke pepekku yang sudah tak sabar untuk segera melahap kontolnya yang besar.

”Aaakkkhhh... Bantu dorong sayaang... Oooooowwwwww...” Aku merengek panjang ketika sedikit demi sedikit amblas juga kontolnya menembus pepekku dan diiringi rasa perih yang menggemaskan...

”Sssshhh... Aaakkkhh... Aaakkkhhh... Ayun pinggulmu ke atas sayaaang...” Kembali aku menuntun anak muda ini untuk memulai persetubuhan antara janda dan anak muda.

” Aaawww... Aaakkkhhh...  Aaakkkhhh... Perlahan dulu sayaaang, kontolmu gede banget... Perih tauuk...” Aku ngedumel manja... Ketika Ronie mengayun pinggulnya kuat sekali... Terasa tubuhku bagaikan baterai yang baru dicharge, aliran energi aneh itu mengalir menyebar keseluruh tubuhku, membuatku semakin binal memainkan goyangan pinggulku. Sementara Ronie ternyata cukup cerdas menyerap pelajaran, bahkan mampu segera mengembangkannya. Dengan posisi tubuhku di atas, membuatku sangat cepat mencapai orgasme...

Entahlah atau karena besarnya kontol Ronie yang menyungkal rapat pepekku tanpa celah sedikit pun, sehingga seluruh syaraf dinding pepekku rata dibesutnya... Luar biasa! Dalam waktu kurang dari 5 menit setelah orgasmeku yang pertama, kembali aku tak dapat menahan jeritku mengantar rasa nikmatnya mani orgasme yang kedua... Dan...

Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Aaaammmpppuuunnn...!!!!
Rupanya Ronie tak mampu menahan lebih lama lagi, kembali maninya nyembur didalam pepekku. Tubuhku dihentak-hentaknya kuat sekali, seakan ingin memasukkan seluruh kontolnya beserta biji pelernya ke lubang pepekku dan diiringi erangan mirip suara anjing buas yang sedang melolong panjang...

Kulihat Ronie lemas tak berdaya setelah merasakan nikmatnya ngentot dengan janda sepertiku. Dan bagiku ini mengentot adalah hal biasa yang selalu ingin kurasakan setiap saat.

Namun, aku menangis menyesal setelahnya, berkali-kali Ronie memohon maaf atas kejadian yang terjadi siang itu. Tapi, anehnya gairah seksualku yang meletup-letup tak terbendung itu, mereda setelah kejadian siang itu. Aktivitas berjalan normal kembali, tapi sudah hampir seminggu ini, aku tak pernah melihat Ronie datang ke rumah.

”Dia lagi sibuk Ma... Dapat tugas antar jemput saudara sepupunya yang masih SD” Jawab Astari ketika aku menanyakan tentang Ronie yang tak pernah datang lagi ke rumahku. Terus terang saja, sejak kejadian itu... Pikiranku sangat kacau, disisi lain aku sebagai Mama Astari sangat menyesal dan sedih atas kejadian itu, tapi disisi lainnya aku sebagai seorang wanita yang masih punya hasrat dan naluri betina yang utuh. Aku tak ingin melupakan kejadian itu, bahkan aku berharap kejadian itu terulang lagi.

Hampir sebulan lamanya Ronie tak muncul ke rumah, akupun maklum, Ronie sebagai remaja hijau, tentu mengalami shock dengan kejadian itu. Disitulah muncul rasa berdosaku kepada Ronie dan Astari anakku. Tapi sejujurnya ada terselip rasa rinduku memandang wajah anak muda itu. Aku sering mengintip dari balik gorden jendela, saat Astari turun dari boncengan Ronnie. Kenapa hatiku berdebar-debar dan sedikit desiran birahiku menggelegak...

Pikiranku makin kacau, setelah beberapa kali kulihat Ronnie mulai nongkrong lagi dirumah. Kulihat Ronnie masih salah tingkah di depanku, walaupun aku sudah berusaha menetralisirnya. Tapi buat aku, otakku jadi ngeres begitu melihat wajah Ronnie yang innocent...

Betapa tidak, terbayanglah ekspresi wajahnya ketika tengah ngentot denganku beberapa waktu yang lalu. Ekspresi wajahnya yang begitu sensual dimataku pada saat dia melepas semburan manianya, suara erangan dan nafas birahinya seakan nempel ditelingaku...

Maka kekacauan inilah yang mendorongku menerima tawaran Adrian, seorang rekan bisnisku untuk makan siang di sebuah hotel berbintang dan setelahnya akupun tak menolak ketika ia mengajakku memasuki sebuah kamar President Suite di hotel itu, dengan alasan untuk mencari ketenangan membicarakan pekerjaan.

Walaupun yang terjadi kemudian adalah rayuan-rayuan mautnya yang kusambut positif. Dari remasan tangan, kecupan bibir, jilatan lidahnya yang nakal pada leherku, desahan resahku, remasan gemasku, dan... Lolosnya pakaian kami satu persatu... Tetekku semakin mengencang akibat remasan tangan dan cumbuan bibirnya, dan jilatannya pada itilku semakin buat aku tak bisa menahan nafsu birahiku ini.

Kontolnya yang besar, keras dan lumayan panjang, memaksa bibirku untuk mengulumnya... Ooowwwhhh... Nikmatnya hentakan tubuhnya menekan tubuhku, sodokan kontolnya pepekku mengantarkan kenikmatan orgasmeku dua kali berturut-turut...

Dua jam kami melewatkan waktu untuk mengentot siang itu, kekaguman Adrian atas permainan ranjangku yang begitu panas serta liar bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsanya dan lihay... Beberapa kali aku ngentot dengan Adrian, kepuasan sex kuraih dengan sempurna karena kelihayannya memperlakukanku di atas ranjang.

Tapi bayangan sensual wajah bocah innocent bernama Ronnie itu tak juga sirna... Sampai pada suatu malam hujan turun dengan deras... Rupanya malam itu Ronie sedang di rumah, berbincang dengan Astari di ruang tamu, sedangkan aku nonton TV di kamarku.

”Ma, mas Ronnie mau pulang tuh...” Terdengar suara Astari jerit dari ruang tamu.

”Eh... pulang? Hujannya gede banget, tunggu reda aja lagi pula rumah Ronie kan jauh” Jawabku spontan sambil bangkit dari dudukku berjalan ke ruang tamu. Kulihat jam memang sudah terlalu malam untuk bertamu.

”Ron... hujan begini lebat, udah malam lagi, ntar ada apa-apa di jalan... Sudah deh Mama kasih kamu nginep di sini, tidur di kamar atas, besok subuh Mama bangunin kamu” ujarku, terdorong rasa sebagai orang tua yang khawatir kepada anaknya... Ronie menunduk salah tingkah gak berani menolak.

”Tapi Ronie harus telpon rumah dulu tante...” sahutnya pelan... Dan akhirnya justru aku yang menelpon ke rumah Ronie meminta ijin orang tua Ronie, yang ternyata menyambut baik.

Malam semakin larut, sementara hujan semakin hebat diserta guntur dan kilatan petir. Aku tergolek di ranjang, tak dapat memejamkan mata. Siang tadi kembali Aku ngentot dengan Adrian. Tapi, entah kenapa kali ini susah sekali aku mencapai orgasme. Bahkan sampai 2 kali Adrian menumpahkan maninya, aku masih belum orgasme... Dan entah kenapa justru sekarang wajah bocah itu yang terbayang-bayang dimalam yang dingin ini. Waduhhh... Gawat, birahiku meletup-letup lagi. Ampuuunnn... Sekarang bocah itu ada di lantai atas.

Tunggu apa lagi??? Hmmmm... Bisikan setan membuatku tak mampu menahan tubuhku yang berjalan menapaki tangga. Dan kini aku di depan pintu kamarnya... Tanpa mengetuk, kubuka pintu kamarnya, ternyata Ronie pun masih belum tidur...

”Ron, kamu belum tidur?” tanyaku gagap... Kenapa aku jadi salah tingkah sekarang?

”Tante juga belum tidur?” sahutnya... Jawabannya begitu tegas! Aaakkkhhh... Siapa yang menuntunku duduk diranjangnya... Eeehhhmmm... Darahku berdesir deras ketika tahu mata Ronie menatap tetekku yang hanya mengenakan lingerie transparant dengan bra dan celana dalam g-string berwarna merah, sehingga jelas tercetak menonjol lingerieku yang memang berbahan tipis... Kembali aku kehilangan kontrol akan nafsu birahi yang liar...

Dan entahlah bagaimana awalnya dan siapa yang mengawali... Bibirku sudah dalam lumatan bibir Ronie... Sergapan nafsu birahiku tak dapat kuelakkan dan remasan lembut tangan anak muda ini pada tetekku melambungkan gairah seksualku... Jilatan dan emutan lidah nakalnya pada tetekku membuat tubuhku menggeliat erotis disertai erangan manjaku... Lingerie, bra dan g-stringku perlahan-lahan meninggalkan tubuhku, begitu juga semua pakaian Ronie. Aku begitu hot serta liar dan bergairah mencumbui tubuh pacar anakku itu...

Tapi aku sudah melupakan siapa Ronie, yang aku tahu Ronie adalah anak muda yang siap memenuhi seluruh kebutuhan seksualku. Ooowwwhhh... Aku tak menyangka kali ini Ronie lebih lihay dan lebih liar bahkan sangat buas melakukan serangan, sampai aku hampir tak percaya ketika Ronie menjilati dan mengemut itilku serta sambil mengocok pepekku...

”Ronnn... Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Ooowwwhhh... Enaaakkk... Lagi Ronnn... Ammpuunn nikmaaaatnyaa...” desahku merasakan nikmat jilatan dan emutan  lidahnya pada itilku, hingga membuat Ronie tambah semangat dan cepat mengocok pepekku sampai basah luar biasa bahkan sampai tumpah dari pepekku.

Aku sudah gak tahan dan sekarang giliran Ronie yang memerintahku untuk menghisap kontolnya yang besar nan keras serta panjang, tak kusangka lagi Ronie yang memerintahku untuk mengemut biji pelernya sampai biji matanya menjulang ke atas saking enaknya dia merasakan nikmatnya emutan dan jilatan lidahku yang memang aku ahli...

Tidak seperti Ronie yang pertama kali ngentot denganku, kali ini Ronie dengan tegas membalikkan badanku seperti anjing menungging dan lalu... Blubbb, kontol besarnya masuk dengan sekali hentakan dan... Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Ooowwwhhh... Enaaakkk... Lagi Ronnn... Lebih cepat Ron...

Luluh lantak tubuhku dihajar aksi ganas Ronie. Tapi buatku adalah sebuah sensasi seksual yang sangat luar biasa yang mengantarku meraih dua kali kenikmatan orgasme... “Tante... Ronie tembak dalam yaaa... Uda gak tahan lagi, pintanya dengan tegas...” Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Crrrooooottt... Crrrooooottt... Crrrooooottt... Kurasakan hangatnya mani Ronie menjalar masuk ke dalam pepekku...

Dan akhirnya kami berdua terbaring lemas tak berdaya diranjang...

“Ronie, jujur sama Tante! Setelah waktu itu kamu ngentot sama perempuan mana...?” tanyaku datar dengan nada dingin.

”Nggak ada tan..., hanya sekali dan pertama kalinya cuma sama Tante,” jawab Ronie agak gugup...

”Gak mungkin, kamu mendadak bisa begitu pintar ngentot dengan Tante?” desakku... Dengan malu-malu, akhirnya Ronie jujur bahwa dia banyak nonton blue film dan otak cerdasnya banyak menyerap gaya dan cara bercinta dari film-film bokep yang ditontonnya.

“Hmmmm... Kaciaaan... Kamu pasti kangen dan sangek ingin ngentot dengan Tante ya sayaang?” bisikku sambil kulumat bibirku ke bibirnya, tubuhku bergerak menindih tubuh atletis Ronie, tubuhku direngkuh dan tubuh kami menempel ketat. Dan kami mulai lagi mengentot dengan penuh nafsu tapi dengan permainan baru yang lebih lembut dari yang tadi...

Anak muda ini dengan cepat menguasai permainan baru yang kuajarkan, dengan telaten setiap inchi tubuhku dirambahnya dengan remasan, gerayangan tangannya yang nakal, emutan dan jilatan lidahnya merambah setiap bagian tubuhku yang sensitif... Tubuhku menggeliat erotis, kadang menggelepar liar, rintihanku mulai terdengar, tak dapat kutahan desahan kenikmatan ini dan diselingi jeritan bagaikan anjing menggonggong.

”Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Ayo, sayaang... Tante udah gak tahan dengan kontolmu...” bisikku lembut, setelah aku nggak tahan lagi merasakan emutan dan jilatan Ronie pada itilku...

”Aoooouuuhhh... Roooonnn... Aaakkkhhh... Aaakkkhhh...” suaraku terdengar bergetar memelas... Mataku meredup sayu menatap wajah imut Ronie, mana kala pepekku untuk kesekian kalinya ditembus kontol besar nan keras milik Ronie, namun kali ini Ronie menekan pelan sekali, sehingga terjadi gesekan nikmaaaaat yang lama sekali... Sehingga kedua kakiku yang melingkari pinggangnya seakan mengejang, tak tahan menahan kenikmatan yang luar biasa ini...

“Enaaak Tante?” bisiknya lembut sambil tersenyum manis, ketika lubang pepekku sudah tak ada tempat lagi bagi kontolnya... Aku pun menjawab dengan melumat bibirnya sambil sesekali menggigitnya...

Ciuman dan kuluman panjang dimulai, dorongan gelegak birahi kami memang luar biasa, permainan semakin panas dan semakin liar, ekspresi kami total menyembur tanpa kendali... Kembali tubuhku dihentak-hentak oleh tenaga anak muda yang atletis dengan garangnya... Jeritan dan rintihanku silih berganti ditimpa dengus nafas birahi Ronie yang buas bagaikan binatang siap menerkam mangsanya...

“Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Roonnnie saayaang... Aammppuuunn... Ooowwwhhhhh... Niiikmaaat banggeetttttt...” rengekku dengan suara memelas, namun tarian pinggulku dengan gemulai masih dengan sengit mengcounter rajaman kontol Ronie di lubang pepekku sehingga terdengar bunyi berceprotan diselangkanganku... Benar-benar gilaaa permainan sex kami, susah untuk kuceritakan sensasi malam itu...

“Tante, Aaakkkhhh... Aaakkkhhh... Ronie uda mau nembak keluaar... sssshhh” desis Ronie dengan suara bergetar, matanya garang menatapku... “Tembak dalam saja sayaaanggg...“ pintaku.

”Ayoooo, sayaanggg... Semburkan manimu... Ooouuuwwhhh...!!!” Yaaa ammppuuun... Mengerikan sekali, tubuhku berguncang hebat, akibat hentakan tubuh Ronie menghajar lubang pepekku pada detik puncaknya... Mulutku menganga lebar tanpa suara, tanganku mencengkeram erat pinggiran ranjang... Dan entah apa yang terjadi, karena pada saat itu orgasmeku pun meletus dahsyat tak terbendung...

Entah berapa lama suasana hening, hanya suara nafas kami terengah-engah yang terdengar... Hujan di luar rupanya sudah berhenti juga.

”Tante, gimana kalau tante hamil?” tanyanya memecah suasana keheningan setelah kami ngentot dengan dahsyat... Aku sontak terkejut dengan pertanyaannya.

”Hmmm... Gak apa-apa sayang... Akan tante besarkan anak kita jika tante hamil” Ronie terkejut dengan jawabanku... Uda gak usa kamu pikirkan soal itu, tante kan ada makan pil KB setiap kita ngentot. Tapi kamu harus janji ke tante yaaa... Apa itu tante? tanya nya penuh penasaran...

“Kontolmu buat Tante aja ya sayaang... Jangan buat orang lain, apalagi buat Astari... Awas aja jika Tante tau dan Tante bisa marah besar!” sambungku dengan nada serius. Ronie pun mengangguk tegas dan lalu kulumat lagi bibirnya sebelum kuantar ke garasi mobil, tempat motornya diparkirkan.

Aku memang sudah gila dan sangat hyper soal sex. Bahkan saking gilanya diriku, di garasi masih sempat kulakukan oral sex sampai keluar maninya... Lalu kutelan habis maninya yang hangat di dalam mulutku... Capek yang luar biasa kurasakan setelahnya, badan rasanya lengket-lengket dan bau maninya Ronie masih terasa diseluruh badanku.

Share:

0 comments:

Posting Komentar

Arsip Blog